Persaingan memperebutkan kursi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama atau PBNU periode 2026–2031 memasuki tahap penentuan dalam Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Setelah proses penjaringan yang berlangsung dalam Sidang Pleno V, terdapat lima nama yang memenuhi persyaratan untuk melanjutkan proses pemilihan. Kelima nama tersebut yakni KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, KH Zulfa Mustofa, KH Abdussalam Shohib, KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, serta KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin.
Dalam proses penjaringan yang melibatkan 552 suara dari Pengurus Cabang, Pengurus Wilayah, dan Pengurus Cabang Istimewa NU, Gus Kikin memperoleh suara terbanyak dengan 472 suara. Berikutnya KH Zulfa Mustofa mendapatkan 262 suara, KH Abdussalam Shohib 261 suara, Gus Yahya 258 suara, dan Gus Rozin memperoleh 155 suara.
Pemilihan Ketua Umum PBNU kali ini menggunakan mekanisme yang berbeda dari sistem pemilihan langsung. Muktamar sebelumnya memutuskan bahwa Ketua Umum akan ditentukan melalui Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
Dalam mekanisme tersebut, lima nama hasil penjaringan diserahkan kepada Rais Aam terpilih, KH Miftachul Akhyar, bersama delapan anggota AHWA. Rais Aam terpilih telah menyetujui kelima nama tersebut untuk kemudian dimusyawarahkan guna menentukan Ketua Umum PBNU periode 2026–2031.
Perubahan mekanisme pemilihan ini sebelumnya diputuskan melalui voting dalam Sidang Pleno III. Dari 552 suara, sebanyak 401 peserta memilih perubahan mekanisme, sementara 150 suara memilih sistem lama dan satu suara dinyatakan tidak sah.
Kini perhatian muktamirin tertuju pada musyawarah Rais Aam bersama anggota AHWA. Hasil musyawarah tersebut akan menentukan sosok yang dipercaya memimpin PBNU untuk lima tahun mendatang.
Muktamar ke-35 NU berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Jombang dengan agenda utama menentukan arah organisasi serta kepemimpinan PBNU periode berikutnya.
