Gelanggang Jatim – Kuwait – Sistem pertahanan Kuwait menghadapi serangan rudal dan pesawat nirawak Iran dalam gelombang serangan terbaru pada Kamis pagi, 3 September 2026, di tengah meningkatnya bentrokan regional pasca serangan AS terhadap Iran.
Militer Kuwait mengumumkan sistem pertahanan udara negara Teluk itu sedang menghadapi serangan rudal dan drone musuh menyusul agresi Iran. Pimpinan militer mengonfirmasi bahwa suara ledakan keras yang terdengar di sejumlah wilayah negara tersebut disebabkan oleh baterai pertahanan udara yang secara aktif mencegat target musuh yang masuk.
Kantor berita Iran IRIB mengklaim bahwa pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait menjadi sasaran dalam operasi tersebut. Laporan menyebutkan salah satu pangkalan Amerika terkena serangan yang menyebabkan kepulan asap membubung tinggi di lokasi.
Serangan ini merupakan bagian dari eskalasi konflik yang telah berlangsung lebih dari enam bulan antara Iran dan Amerika Serikat. Sebelumnya pada Selasa 1 September 2026, militer AS menggempur lokasi pesta pernikahan di Kuhestak Iran yang menewaskan empat orang termasuk dua anak, memicu serangan balasan Iran ke negara-negara sekutu AS di kawasan Teluk.
Konflik yang berpusat di Selat Hormuz ini telah mendorong kenaikan harga minyak dan mengguncang perekonomian global. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia sebelumnya melewati jalur strategis tersebut, namun kini terganggu akibat perang berkepanjangan antara kedua negara.
