Gelanggang Jatim – Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menguat pada penutupan perdagangan Selasa 8 September 2026, memberikan dampak positif bagi perekonomian Jawa Timur yang tengah tumbuh 5,84 persen.
Rupiah ditutup menguat 8 poin atau 0,05 persen ke level Rp17.632 per dolar AS pada perdagangan Selasa 8 September 2026. Posisi ini lebih kuat dibandingkan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.640 per dolar AS, menandakan tren penguatan yang berlangsung selama lima pekan beruntun.
Penguatan rupiah turut didukung kenaikan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2026 sebesar 146,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.584,26 triliun, meningkat 1,2 miliar dolar AS dibandingkan posisi akhir Juli 2026. Peningkatan ini terutama dipengaruhi penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, di tengah kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah oleh Bank Indonesia.
Meski demikian, analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebutkan bahwa penguatan rupiah masih terbatas karena investor mempertimbangkan eskalasi geopolitik di Timur Tengah serta menantikan sejumlah data ekonomi penting dari dalam dan luar negeri. Rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.640 hingga Rp17.680 per dolar AS dengan kecenderungan fluktuatif.
Penguatan mata uang rupiah ini memberikan sentimen positif bagi perekonomian Jawa Timur yang pada triwulan II tahun 2026 tumbuh sebesar 5,84 persen year on year, merupakan pertumbuhan tertinggi di Pulau Jawa dan melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Sektor manufaktur menjadi penopang terbesar dengan kontribusi 31,27 persen terhadap perekonomian Jawa Timur.
